Senin, 08 Oktober 2012

Askep Pembesaran Teroi



LAPORAN PENDAHULUAN

A.    KONSEP DASAR
I.       Definisi
Struma adalah Pembesaran tiroid menyeluruh atau sebagian (Martin Von Planta, 2002)
Apabila pada pemeriksaan kelenjar tyroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodosa. (Afiatma Tjokronegoro, dkk, 1996)
Struma nodosa tanpa disertai hipertiroidisme disebut struma nodosa non-toksik. (Afiatma Tjokronegoro, dkk, 1996) dan (Arif Mansjoeri, 1999)

II.    Patofisiologi


























III. Gejala Klinis
Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, yaitu :
a.       Berdasarkan jumlah nodul : bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut struma multinodosa
b.      Berdasarkan kemampuan menangkap yodium radioaktif : dikenal 3 bentuk nodul tiroid yaitu nodul dingin, hangat, dan panas.
c.       Berdasarkan konsistensinya : nodul lunak, kistik, dan sangat keras.
Pada umumnya pasien struma nodosa datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Sebagian kecil pasien, khususnya yang dengan struma nodosa besar, mengeluh adanya gejala mekanis, yaitu penekanan pada esofagus atau trakea. Diagnosis ditegakkan atas dasar adanya struma yang bernodul dengan keadaan eutiroid.

IV. Pemeriksaaan dan Diagnosis
1.      Pemeriksaan sidik Tiroid
Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi, dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Pada pemeriksaan ini pasien diberi NaI peroral dan setelah 2 – 4 jam secara fotografik ditentukan konsentrasi yodium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid.
Dari hasil sidik tiroid dapat di bedakan 3 bentuk, yaitu :
a.       Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya. Hal ini menunjukkan fungsi yang rendah
b.      Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak daripada sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
c.       Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.
Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan apakah nodul itu ganas atau jinak.
2.      Pemeriksaan Fisik
a.       Jumlah nodul : satu (soliter) atau lebih dari satu (multipel)
b.      Konsistensi : lunak, kistik, keras, atau sangat keras
c.       Nyeri pada penekanan : ada atau tidak
d.      Pembesaran kelenjar getah bening di sekitar tiroid : ada atau tidak ada.


3.      Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Dengan pemeriksaan USG dapat dibedakan antara yang padat, cair, dan beberapa bentuk kelainan, tetapi belum dapat membedakan dengan pasti apakah suatu nodul ganas atau jinak. Kelainan – kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG ialah :
a.       Kista : kurang lebih bulat, seluruhnya hipoekoik sonolusen, dindingnya tipis.
b.      Adenoma/nodul padat : ISO atau hiperekoik, kadang disertai halo yaitu suatu lingkaran hipoekoik disekilingnya.
c.       Kemungkinan karsinoma : nodul padat, biasanya tanpa halo.
d.      Tiroiditis : hipoekoik, difus meliputi seluruh kalenjer.
Pemeriksaan ini dibandingkan pemeriksaan sidik tiroid lebih menguntungkan karena lebih dapat membedakan antara yang jinak dan ganas.
4.      Biopsi aspirasi jarum halus
Biopsi ini dilaklukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Kerugian pemeriksaan dengan cara ini adalah dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi lokasi biopsi kurang tepat, teknik biopsi kurang benar, pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah interpretasi oleh ahli sitologi.
5.      Termografi
Termografi adalah metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu tempat dengan memakai Dynamic Telethermography. Pemeriksaan ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Hasilnya disebut panas jika perbedaan panas dengan sekitarnya > 0,90 C dan dingin apabila < 0,90 C. pada penelitian Alves dkk, didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas. Pemeriksaan ini paling sensitif dan spesifik bila dibandingkan dengan pemeriksaan lain.
6.      Pertanda tumor
Pada pemeriksaan ini yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg) serum, kadar Tg serum normal antara 1,3 – 30 ng/ml, pada kelainan jinak rata-rata 323 ng/ml, dan pada keganasan rata-rata 424 ng/ml.




V.    Penatalaksanaan
1.      Strumektomi
Strumektomi dilakukan pada struma yang besar dan menyebabkan keluhan mekanis, strmektomi juga diindikasikan terhadap kista tiroid yang tidak mengecil setelah dilakukan biopsi aspirasi jarum halus. Nodul panas dengan diameter > 2,5 mm dilakukan operasi karena dikhawatirkan mudah timbul hipertiroidisme.
2.      L-tiroksin selama 4 – 5 bulan
Preparat ini diberikan apabila terdapat nodul hangat, lalu dilakukan pemeriksaan sidik tiroid ulang. Apablia nodul mengecil maka terapi diteruskan namun apabila tidak mengecil atau bahkan membesar, dilakukan biopsi aspirasi atau operasi.
3.      Biopsi aspirasi jarum halus
Cara ini dilakukan pada kista tiroid hingga nodul kurang dari 10 mm.























B.     ASUHAN KEPERAWATAN
I.       Pengkajian
A.    Pengumpulan Data
1.      Identitas
Identitas klien meliputi : nama, jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendidikan, status perkawinan, agama, kebangsaan, suku, alamat, tanggal MRS/jam, diagnosa masuk, No. Reg ruangan, serta identitas yang bertanggung jawab.
2.      Keluhan Utama
Biasanya klien mengeluh tidak nyaman karena adanya benjolan pada leher.
B.     Riwayat Kesehatan
1.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya klien mengeluh nyei dan tidak nyaman pada leher dan klien merasa takut karena akan dilakukan operasi.
2.      Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi penyakit yang pernah diderita pasien seperti, DM, HT, dan lain-lain.
3.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi penyakit-penyakit yang pernah diderita keluarga baik yang menular ataupun yang menurun seperti DM, HT, TB.
C.     Pola – pola Fungsi Kesehatan
1.      Pola Persepsi dan tatalaksana Hidup Sehat
Meliputi : kebiasaan pola hidup, perawatan diri dan pengetahuan tentang perawatan kesehatan dirinya.
2.      Pola Nutrisi dan Metabolisme
Meliputi : kebiasaan makan (porsi, komposisi) sebelum dan selama MRS dan kebiasaan minumnya sebelum dan selama MRS, dan biasanya nafsu makan menurun karena leher terasa tidak nyaman.
3.      Pola eliminasi
Biasanya pasien tidak mengeluh adanya gangguan dan kesulitan saat BAB dan BAK
4.      Pola Istirahat tidur
Biasanya pasien saat MRS akan susah tidur karena cemas akan dilakukan operasi.


5.      Pola Sensori dan Kognitif
Biasanya tidak terjadi masalah pada sensorinya. Dan pengetahuan klien tentang penyakitnya kurang, sehingga klien cemas dan sering bertanya tentang keadaannya.
D.    Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan Umum
Biasanya tensinya normal, jika tidak ada riwayat HT, Nadi Normal, RR normal dan suhu mengalami peningkatan dan kesadarannya komposmentis
2.      Kepala Leher
Tidak ada pembesaran tonsil, vena jugularis, pembesaran kelenjar tyroid
3.      Thorax
Meliputi ada tidaknya kelainan pada daerah dada.
4.      Abdomen
Biasanya pada palpasi tidak terdapat masa pada abdomen

II.    Diagnosa
Diagnosa pre op
1.      Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya masa pada leher.
2.      Cemas berhubungan dengan prosedur pembedahan

III. Intervensi
Diagnosa         :  Cemas berhubungan dengan pembedahan.
Tujuan             :  Tidak terjadi kecemasan yang berlanjut sehingga menyebabkan gangguan psikologis yang lebih lanjut.
Kriteria Hasil   :  -     Dapat mengungkapkan perasaan takutnya.
-          Tampak rilex
-          Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping yang efektif.
Rencana Tindakan :
1.      Tinjau ulang pengalaman pasien dengan kanker dan operasi.
2.      Dorong pasien untuk mengungkan pikiran dan perasaan
3.      Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk bicara.
4.      pertahankan kontak sering dengan pasien. Bicara dengan menyentuk pasien pasien bila tepat.
5.      Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis. Hindari memperdebatkan tentang persepsi pasien terhadap situasi.
6.      Jelaskan pengobatan yang dianjurkan, tujuannya dan potensial efek samping membantu pasien menyiapkan pengobatan.

Rasional
1.      Membantu dalam identifikasi rasa takut dan kesalahan konsep berdasarkan pada pengalaman dengan kangker dan operasi.
2.      Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut serta kesalahan konsep tentang diagnosis.
3.      Membantu pasien untuk merasa diterima pada kondisi tanpa perasaan dihakimi dan meningkatkan rasa terhormat dan kontrol
4.      Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak; berikan respek dan penerimaan individu, mengembangkan kepercayaan.
5.      Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan / pilihan berdasarkan realita.
6.      tujuan pengobatan kangker adalah menghancurkan sel-sel melignan sambil meminimasi kerusakan pada sel yang normal. Pengobatan dapat meliputi pembedahan serta kemoterapi, radiasi.
7.      Pilihan intervensi ditentukan oleh tingkat kecemasan.

IV. Pelaksanaan
            Pelaksanaan merupakan pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Dalam operasionalnya perawat merupakan satu tim yang berkerja secara berkesinambungan dengan berbagai tim. Seluruh kegiatan keperawatan dalam tahap ini ditulis secara rinci sesuai dengan tindakan yang telah dilakukan  pada pelaksanaan tindakan keperawatan atau catatan keperawatan (Nasrul Efendi, 1995)

V.    Evaluasi
            Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses perawatan dan merupakan perbandingan yang sistematik dan terencanan tentang kesehatan pasien dan sesama tenaga kesehatan. (Nasrul Efendi, 1995)



DAFTAR PUSTAKA

-        Carpernito Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 2001.

-        Doenges Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 2001.

-        Effendi Nasrul, Pengatar Proses Keperawatan, EGC, Jakarta, 1995.

-        Mansjoer Arif, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000.

-        Planta Martin Van, Diagnosa Banding Ilmu Penyakit Dalam, Hipokrates, Jakarta, 2002.

-        Tjokronegoro Arjatmo, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, Jakarta, 1996.

0 komentar:

Posting Komentar