Selasa, 04 Desember 2012

ASUHANAN KEPERAWATAN ANEMIA HEMOLITIK



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Anemia hemolitik adalah penyakit anemia yang disebabkan oleh meningkatnya kegiatan penghancuran sel darah merah. Siklus hidup sel darah merah adalah 120 hari, dan setelah itu maka organ penghancur dalam sumsum tulang, limpa dan hati akan bekerja merusak sel darah merah yang berumur lebih dari 120 hari tersebut.
Penghancuran sel darah merah (hemolisis)sebelum waktunya bisa terjadi karena beberapa hal, antara lain karena adanya penyakit tertentu seperti leukimia (kanker darah) dan beberapa sebab lain yang akan dijelaskan lebih rinci berikut ini. Jika terjadi penghancuran sel darah merah karena adanya gangguan penyakit tersebut, maka sum-sum tulang belakang akan memprosuksi sel darah merah sampai dengan 10 kali lipat kuota produksi normalnya. Namun jika proses penghancuran berlangsung lebih cepat dari proses produksi, maka akan terjadi anemia hemolitik.

1.2  Rumusan Masalah

1.      Apa Definisi anemia hemolitik?
2.      Apa saja Klasifikasi anemia hemolitik ?
3.       Bagaimana Perawatan anemia hemolitik?

1.3 Tujuan
Tujuan Instuksional Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien anemia hemolitik.
Tujuan Instuksional Khusus
1)      Mengetahui pengertian dari anemia hemolitik
2)      Mengetahui klasifikasi anemia hemolitik
3)      Mengetahui perawatan anemia hemolitik

BAB II
TINJAUAN TEORIS
A.     Definisi
a.       Anemia
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1 mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapat dalam 100 ml darah (Ngastia, 1997 ; 398)
Anemia adalah berkurangnya volume eritrosit di kadar HB di bawah batas nilai-nilai yang dijumpai pada orang sehat (Nelson; 838)
b.      Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik adalah anemia yang di sebabkan oleh proses hemolisis, yaitu pemecahahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum waktunya (normal umur eritrosit 100-120 hari).
Anemia hemolitik adalah anemia karena hemolisis, kerusakan abnormal sel-sel darah merah (sel darah merah), baik di dalam pembuluh darah (hemolisis intravaskular) atau di tempat lain dalam tubuh (extravascular).
Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan karena terjadinya penghancuran darah sehingga umur dari eritrosit pendek ( umur eritrosit normalnya 100 sampai 120 hari).
Anemia hemolitik merupakan kondisi dimana jumlah sel darah merah (HB) berada di bawah nilai normal akibat kerusakan (dekstruksi) pada eritrosit yang lebih cepat dari pada kemampuan sumsum tulang mengantinya kembali. Jika terjadi hemolisis (pecahnya sel darah merah) ringan/sedang dan sumsum tulang masih bisa mengompensasinya, anemia tidak akan terjadi, keadaan ini disebut anemia terkompensasi. Namun jika terjadi kerusakan berat dan sumsum tulang tidak mampu menganti keadaan inilah yang disebut anemia hemolitik.

Anemia hemolitik sangat berkaitan erat dengan umur eritrosit. Pada kondisi normal eritrosit akan tetap hidup dan berfungsi baik selama 120 hari, sedang pada penderita anemia hemolitik umur eritrosit hanya beberapa hari saja.





B.     Etiologi
            Etiologi anemia hemolitik dibedakan kedalam 2 bagian sebagai berikut : 
Intrinsik
  • Kelainan membran, seperti sferositosis herediter, hemoglobinuria nokturnal paroksismal.
  • Kelainan glikolisis, seperti defisiensi piruvat kinase.
  • Kelainan enzim, seperti defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD).
  • Hemoglobinopati, seperti anemia sel sabit, methemoglobinemia.
Ekstinsik
  • Gangguan sistem imun, seperti pada penyakit autoimun, penyakit limfoproliferatif, keracunan obat.
  • Mikroangiopati, seperti pada purpura trombotik trombositopenik, koagulasi intravaskular diseminata (KID).
  • Infeksi, seperti akibat plasmodium, klostridium, borrelia.
  • Hipersplenisme
  • Gangguan nutrisi
   
C.     Patofisiologi
Hemolisis adalah acara terakhir dipicu oleh sejumlah besar diperoleh turun-temurun dan gangguan. etiologi dari penghancuran eritrosit prematur adalah beragam dan dapat disebabkan oleh kondisi seperti membran intrinsik cacat, abnormal hemoglobin, eritrosit enzimatik cacat, kekebalan penghancuran eritrosit, mekanis cedera, dan hypersplenism. Hemolisis dikaitkan dengan pelepasan hemoglobin dan asam laktat dehidrogenase (LDH). Peningkatan bilirubin tidak langsung dan urobilinogen berasal dari hemoglobin dilepaskan.
Seorang pasien dengan hemolisis ringan mungkin memiliki tingkat hemoglobin normal jika peningkatan produksi sesuai dengan laju kerusakan eritrosit. Atau, pasien dengan hemolisis ringan mungkin mengalami anemia ditandai jika sumsum tulang mereka produksi eritrosit transiently dimatikan oleh virus (Parvovirus B19) atau infeksi lain, mengakibatkan kehancuran yang tidak dikompensasi eritrosit (aplastic krisis hemolitik, di mana penurunan eritrosit terjadi di pasien dengan hemolisis berkelanjutan). Kelainan bentuk tulang tengkorak dan dapat terjadi dengan ditandai kenaikan hematopoiesis, perluasan tulang pada masa bayi, dan gangguan anak usia dini seperti anemia sel sabit atau talasemia.
            a.       Mekanisme pemecahan eritrosit ektravaskular
terjadi dalam sel makrofag dan sistem retikuloendotelial terutama di organ hati, limpa/pankreas dan sumsum tulang. Pemecahan eritrosit terjadi di dalam sel organ-organ tersebut karena organ-organ tersebut mengandung enzim heme oxygenase yang berfungsi sebagai enzim pemecah.
Eritrosit yang lisis akibat kerusakan membran, gangguan pembentukan hemoglobin dan gangguan metabolisme ini, akan dipecah menjadi globin dan heme. Globin akan disimpan sebagai cadangan, sedang heme akan dipecah lagi menjadi besi dan protoforfirin. Besi disimpan sebagai cadangan. Protoforpirin akan terurai menjadi gas CO dan bilirubin. Bilirubin dalam darah berikatan dengan albumin akan membentuk bilirubin indirect (bilirubin I). Bilirubin indirect yang terkonjugasi di organ hati menjadi bilirubin direct (bilirubin II). Bilirubin direct diekresikan (disalurkan) ke empedu sehingga meningkatkan sterkobilinogen (mempengaruhi warna feses) dan urobilinogen (mempengaruhi warna urin/air seni).
            b.      Mekanisme pemecahan eritrosit intravaskular
terjadi dalam sirkulasi darah. Eritrosit yang lisis melepaskan HB bebas ke dalam plasma. Haptoglobin dan hemopektin mengikat HB bebas tersebut ke sistem retikuloendotelial untuk dibersihkan. Dalam kondisi hemolisis berat, jumlah haptoglobin dan hemopektin mengalami penurunan, akibatnya Hemoglobin bebas beredar dalam darah (hemoglobinemia). Pemecahan eritrosit yang berlebihan akan membuat hemoglobin dilepaskan ke dalam plasma. Jumlah hemoglobin yang tidak terakomodasi seluruhnya oleh sistem keseimbangan darah itulah yang menyebabkan hemoglobinemia.
Hemoglobin juga dapat melewati glomelurus ginjal sehingga terjadi hemoglobinuria. Hemoglobin yang terdapat di tubulus ginjal akan diserap oleh sel-sel epitel, sedang kandungan besi yang terdapat di dalamnya akan disimpan dalam bentuk hemosiderin. Jika epitel ini mengalami deskuamasi akan terjadi hemosiderinuria (hemosiderin hanyut bersama air seni). Hemosiderinuria merupakan tanda hemolisis intravaskular kronis.
Berkurangnya jumlah eritrosit diperifer juga memicu ginjal mengeluarkan eritropoetin untuk merangsang eritropoesis di sumsum tulang. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan retikulosit (sel eritrosit muda di paksa matang) sehingga mengakibatkan polikromasia.




























E.     Manifestasi Klinik
F Kadang – kadang Hemolosis terjadi secara tiba- tiba dan berat, menyebabkan krisis hemolotik, yang menyebakan krisis hemolitik yang di tandai dengan:
1.      Demam
2.      Mengigil
3.      Nyeri punggung dan lambung
4.      Perasaan melayang
5.      Penurunan tekana darah yang berarti
F  Secara mikro dapat menunjukan tanda-tanda yang khas yaitu:
1.  Perubahan metabolisme bilirubin dan urobilin yang merupakan hasil pemecahan eritrosit. Peningkatan zat tersebut akan dapat terlihat pada hasil ekskresi yaitu urin dan feses.
2.    Hemoglobinemia : adanya hemoglobin dalam plasma yang seharusnya tidak ada karena hemoglobin terikat pada eritrosit. Pemecahan eritrosit yang berlebihan akan membuat hemoglobin dilepaskan kedalam plasma. Jumlah hemoglobin yang tidak dapat diakomodasi seluruhnya oleh sistem keseimbangan darah akan menyebabkan hemoglobinemia.
3.   Masa hidup eritrosit memendek karena penghancuran yang berlebih.
4.   Retikulositosis : produksi eritrosit yang meningkat sebagai kompensasi banyaknya eritrosit yang hancur sehingga sel muda seperti retikulosit banyak ditemukan.
F  Gejala umum pada anemia adalah nilai kadar HB <7g/dl, sedang gejala hemolisisnya berupa ikterus (kuning) akibat peningkatan kadar bilirubin indirect dalam darah, pembengkakan limfa (splenomegali), pembengkakan organ hati (hepatomegali) dan kandung batu empedu (kholelitiasis). Tanda dan gejala lebih lanjut sangat tergantung pada penyakit yang menyertai.

F.      Pemeriksaan Diagnostik
1.      Gambaran penghancuran eritrosit yang meningkat:
F  Bilirubin serum meningkat
F  Urobilinogen urin meningkat, urin kuning pekat
F  Strekobilinogen feses meningkat, pigmen feses menghitam
2.      Gambaran peningkatan produksi eritrosit
F  Retikulositosis, mikroskopis pewarnaan supravital
F  hiperplasia eritropoesis sum-sum tulang
3.      Gambaran rusaknya eritrosit:
F  morfologi : mikrosferosit, anisopoikilositosis, burr cell, hipokrom mikrositer, target cell, sickle cell, sferosit.
F  fragilitas osmosis, otohemolisis
F  umur eritrosit memendek. pemeriksaan terbaik dengan labeling crom. persentasi aktifikas crom dapat dilihat dan sebanding dengan umur eritrosit. semakin cepat penurunan aktifikas Cr maka semakin pendek umur eritrosit

G.      Pemeriksaan penunjang
1.      Penurunan kadar HB<1g/dl dalam satu minggu tanpa diimbangi dengan proses eritropoesis yang normal
2.      Penurunan masa hidup eritrosit <120 hari. Pemeriksaan terbaik dengan labeling crom. Persentasi aktivitas crom dapat dilihat dan sebanding dengan umur eritrosit. Semakin cepat penurunan aktivitas crom maka semakin pendek umur eritrosit
3.      Hemoglobinuria (urin berwarna merah kecoklatan atau merah kehitaman)
4.      Hemosiderinuria diketahui dengan pemeriksaan pengecatan biru prusia pada air seni
5.      Hemoglobinemia, terlihat pada plasma yang berwarna merah terang
6.      Peningkatan katabolisme heme, biasanya terlihat dari peningkatan bilirubin serum
7.      Retikulositosis, mikroskopis pewarnaan supravital (menghitung sel darah merah muda)
8.      Sterkobilinogen feses meningkat, pigmen feses berwarna kehitaman
9.      Terjadi hiperplasia eritropoesis sumsum tulang
H.     Penatalaksaan
Lebih dari 200 jenis anemia hemolitik ada, dan tiap jenis memerlukan perawatan khusus.
1.      Terapi transfusi
ü  Hindari transfusi kecuali jika benar-benar diperlukan, tetapi mereka mungkin penting bagi pasien dengan angina atau cardiopulmonary terancam status.
ü                            Administer dikemas sel darah merah perlahan-lahan untuk menghindari stres jantung.
ü  Pada anemia hemolitik autoimun (AIHA), jenis pencocokan dan pencocokan silang mungkin sulit. Gunakan paling tidak kompatibel transfusi darah jika ditandai.. Risiko hemolisis akut dari transfusi darah tinggi, tetapi derajat hemolisis tergantung pada laju infus.. Perlahan-lahan memindahkan darah oleh pemberian unit setengah dikemas sel darah merah untuk mencegah kehancuran cepat transfusi darah.
ü  Iron overload dari transfusi berulang-ulang untuk anemia kronis (misalnya, talasemia atau kelainan sel sabit) dapat diobati dengan terapi khelasi. Tinjauan sistematis baru-baru ini dibandingkan besi lisan chelator deferasirox dengan lisan dan chelator deferiprone parenteral tradisional agen, deferoxamine. 10
2.      Menghentikan obat
ü  Discontinue penisilin dan agen-agen lain yang dapat menyebabkan hemolisis kekebalan tubuh dan obat oksidan seperti obat sulfa (lihat Diet).
ü  Obat yang dapat menyebabkan hemolisis kekebalan adalah sebagai berikut
1)      Penisilin
2)      Sefalotin
3)      Ampicillin
4)      Methicillin
5)      Kina
6)      Quinidine
7)      Kortikosteroid dapat dilihat pada anemia hemolitik autoimun. 
3.    Splenektomi dapat menjadi pilihan pertama pengobatan dalam beberapa jenis anemia hemolitik, seperti spherocytosis turun-temurun.
ü  Dalam kasus lain, seperti di AIHA, splenektomi dianjurkan bila langkah-langkah lain telah gagal.
ü   Splenektomi biasanya tidak dianjurkan dalam gangguan hemolitik seperti anemia hemolitik agglutinin dingin.
ü  Diimunisasi terhadap infeksi dengan organisme dikemas, seperti Haemophilus influenzae dan Streptococcus pneumoniae, sejauh sebelum prosedur mungkin.

4.      Penanganan gawat darurat:
Atasi syok, pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, perbaiki fungsi ginjal. Jika terjadi penurunan hemoglobin berat perlu diberi diberi transfusi namun dengan pengawasan ketat. Transfusi yang diberikan berupa washed red cell untuk mengurangi beban antibodi. Selain itu juga diberi steroid parenteral dosis tinggi atau hiperimun untuk menekan aktivitas makrofag.
5.      Terapi suportif-simptomatik:
Bertujuan untuk menekan proses hemolisis terutama dilimfa dengan jalan splenektomi (operasi pengangkatan limfa). Selain itu perlu juga diberi asam folat 0,15-0,3mg/hari untuk mencegah krisis megaloblastik.
6.      Terapi kausal:
Mengobati penyebab dari hemolisis, namun biasanya penyakit ini idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) dan herediter (bawaan) sehingga sulit untuk ditangani. Pada thalasemia, transplantasi sumsum tulang bisa dilakukan.
 

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.     Pengkajian
a.  Biodata :
Nama                    : -
Umur                    :  wanita usia 12-35 th)
Jenis kelamin        : (sering terjadi pada perempuan)
Alamat                 : _
Pendidikan           : (pengetahuan tentang nutrisi)
Nomo reg             :
b.    Riwayat kesehatan
Ø  Riwayat kesehatan dahulu
ü  Kemungkinan klien pernah terpajan zat-zat kimia atau mendapatkan pengobatan seperti anti kanker, analgetik dll
ü  Kemungkinan klien pernah kontak atau terpajan radiasi dengan kadar ionisasi yang besar
ü  Kemungkinan klien kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung as. Folat,Fe dan Vit12.
ü  Kemungkinan klien pernah menderita penyakit-penyakit infeksi
ü  Kemungkinan klien pernah mengalami perdarahan hebat
Ø  Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit anemia dapat disebabkan olen kelainan/kegagalan genetik yang berasal dari orang tua yang sama-sama trait sel sabit
Ø  Riwayat kesehatan sekarang
ü  Klien terlihat keletihan dan lemah
ü  Muka klien pucat dan klien mengalami palpitasi
ü   Mengeluh nyeri mulut dan lidah
c.       Kebutuhan dasar
1)      Pola aktivitas sehari-hari
ü  Keletihan, malaise, kelemahan
ü  Kehilangan produktibitas : penurunan semangat untuk bekerja
2)      Sirkulasi
ü  Palpitasi, takikardia, mur mur sistolik, kulit dan membran mukosa (konjungtiva, mulut, farink dan bibir) pucat
ü  Sklera : biru atau putih seperti mutiara
ü  Pengisian kapiler melambat atau penurunan aliran darah keperifer dan vasokonstriksi (kompensasi)
ü  Kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok
ü  Rambut kering,mudah putus,menipis dan tumbuh uban secara prematur
3)      Eliminasi
Diare dan penurunan haluaran urin
4)      Integritas ego
Depresi, ansietas, takut dan mudah tersinggung
5)      Makanan dan cairan
ü  Penurunan nafsu makan
ü  Mual dan muntah
ü  Penurunan BB
ü  Distensi abdomen dan penurunan bising usus
ü  Nyeri mulut atau lidah dan kesulitan menelan
6)      Higiene
Kurang bertenaga dan penampilan tidak rapi
7)      Neurosensori
ü  Sakit kepala, pusing, vertigo dan ketidak mampuan berkonsentrasi
ü  Penurunan penglihatan
ü  Gelisah dan kelemahan
8)      Nyeri atau kenyamanan
Nyeri abdomen samar dan sakit kepala
9)      Pernafasan
Nafas pendek pada istirahat dan aktivitas (takipnea, ortopnea dan dispnea)
10)  Keamanan
Gangguan penglihatan, jatuh, demam dan infeksi
11)  Seksualitas
ü  Perubahan aliaran menstruasi ( menoragia/amenore)
ü  Hilang libido
ü  Impoten

d.      contoh ANALISA DATA
NO
DATA
ETIOLOGI
PROBLEM
1
DS : mengeluhkan pusing, lemas, menggigil, nyeri punggung dan lambung, serta sesak nafas dan mudah lelah saat beraktivitas.
DO :
ü  Badan pasien teraba dingin
ü  Pasien tampak pucat dan konjungtiva pucat
ü  TTV
ü  TD : di bawah 120/80 mmHg
ü  Suhu 36,50 C – 370 C
Penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen
Perubahan perfusi jaringan
2
DS : mengatakan tidak ada nafsu makan, mual, dan muntah
DO : pasien tampak lemah,
Wajah tampak pucat
Nafsu makan menurun, mual
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3
DS : mengatakan lambung nya nyeri
DO :
ü  Urine pekat dan feses hitam
ü  Pada Auskultasi terdengar bunyi usus menurun
Penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat.
Konstipasi
B.     Diagnosa keperawatan
1)        Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen
2)        Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d nafsu makan menurun, mual
3)        Konstipasi b.d penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat.

C.     contoh RENCANA KEPERAWATAN

NO
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
1.
Tujuan
panjang, Setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 4X 24  dapat memenuhi kebutuhan oksigen

Pendek, setelah dilakuan tindakan kep selama 8 jam dapat meningkatkan perfusi jaringan

Kriteria hasil:
K : klien mengerti penyebab perfusi perubaha jaringan
A : klien mampu untuk mengurangi penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen

P :  klien mampu untuk mengatasi penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen

P :
TTV:
ü  TD : di kisaran 120/80 mmHg
ü  Suhu 36,50 C – 370 C
ü  Jumlah Eritrosit 5000 - 9000 sel/mm3
a.       Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku.


b.      Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.




c.       Awasi upaya pernapasan ; auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius.

d.      Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi.




e.       Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan thermometer.
f.       Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi.
g.       Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.

h.      Berikan transufi darah sesuai indikasi
a.       Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi.
b.      Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi.
c.       Gemericik menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung.
d.      Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark.
e.       Termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen


f.       Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi.



g.       Memaksimalkan transport oksigen ke jaringan.

h.      Meningkatkan jumlah sel darah merah
2.
Jangka panjang, Setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 3X 24 jam  dapat memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh
Pendek, stelah di lakukan tidakan keperawatan selama 3 jam klien mampu menghabiskan porsi makan

Kriteria hasil:
ü  Keadaan umum membaik
ü  dapat menghabiskan porsi makan yang diberikan
ü  Mengalami peningkatan BB
a.       Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai
b.      Observasi dan catat masukkan makanan pasien


c.       Timbang berat badan setiap hari


d.      Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan

e.       Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang berhubungan

f.       Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka.


g.       Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet.


h.      Kolaborasi ; pantau hasil pemeriksaan laboraturium


i.        Kolaborasi; berikan obat sesuai indikasi
a.       Mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi
b.      Mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan

c.       Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi
d.      Menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster
e.       Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.

f.       Meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.
g.       Membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual
h.      Meningkatakan efektivitas program pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.
i.        Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.
3.
Tujuan,
Panjang, setelah di lakukan tindakan asuhan kep selama 4 X 24 jam, membuat/kembali pola normal dari fungsi usus

Kriteria hasil :
ü  mengatakan lambungnya tidak nyeri lagi
ü  Warna urine normal, dan warna feses normal serta konsistensi yang normal
ü  Bunyi usus normal.
a.       Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah


b.      Auskultasi bunyi usus


c.       Awasi intake dan output (makanan dan cairan).



d.      Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung



e.       Hindari makanan yang membentuk gas

f.       Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan kondisi kulit atau mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare.
g.       Kolaborasi ahli gizi untuk diet seimbang dengan tinggi serat dan bulk.






h.      Berikan pelembek feses, stimulant ringan, laksatif pembentuk bulk atau enema sesuai indikasi. Pantau keefektifan. (kolaborasi)
i.        Berikan obat antidiare, misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air, misalnya Metamucil. (kolaborasi).
a.       Membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang tepat.
b.      bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi
c.       dapat mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi diet
d.      membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. Akan membantu memperthankan status hidrasi pada diare
e.       menurunkan distress gastric dan distensi abdomen
f.       mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan






g.       serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk, yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi.
h.      mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi.



i.        menurunkan motilitas usus bila diare terjadi.

















CONTOH IMPLEMENTASI

Tgi/jam
No. Dx
Implementasi
Respon ps
TTD
29/10/12
07.00







08.15

1,2,3







1

1. Memantau TTV







2. Memantau gas darah, volume tidal, tekanan inspirasi puncak, dan parameter ektubasi



1.  DS : keluarga pasien mengatakan pasien agak mendingan
DO : TTV normal : (TD :  110/70-120/80 mmHg, Suhu: 36,5-37,50 C, RR: 16-24  x/mnt, Nadi: 60-100 x/mnt
2. DS : pasien sudah merasa enak
   DO : AGD  normal : (PO2 : 80-95 mmHg, PCO2 : 35-45 mmHg, HCOO-3 : 21-26 mmHg, PH : 7,35- 7,45, SO2 : 90-100  mmHg)


29/10/12
11.00





13.00

2









3



Pemberian serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk, yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi.(kolaborasi ahli gizi)
Menurunkan motilitas usus bila diare terjadi Berikan obat antidiare, misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air, misalnya Metamucil. (kolaborasi dgn dokter).

DS : Pasien bersifat kooperatif
DO : pasien menghabiskan makanan sesuai porsi yang berikan


DS : pasien sedang dalam keadaan tenang
DO: obstruksi usus
8-12 per menit

















Hari /tgl
No. Dx
Evaluasi
Paraf

1.
S : pasien mengatakan sudah tidak pusing, menggigil, nyeri punggung dan lambung
O : TD normal
-klien tidak pucat, sianosis dan suhu dingin
A : masalah teratasi
P  : intervensi di hentikan


2.
S : pasien mengatakan menambah nafsu makan membaik dan sedikit mual,
O : BB : bertambah
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi di lanjutkan


3.
S : pasien mengatakan nyeri pada lambung berkurang
O : sekala nyeri berkurang
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi

Contoh EVALUASI

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1 mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapat dalam 100 ml darah.
Anemia hemolitik adalah anemia yang di sebabkan oleh proses hemolisis, yaitu pemecahahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum waktunya (normal umur eritrosit 100-120 hari).
Penyebab anemia hemolitik :
1. Faktor intrinsik
            a. gangguan stuktur dinding eritrosit
            b. gangguan pembentukan nukleotida
            c. hemoglobinopatia
2. Faktor intrinsik
            a. akibat reaksi non imunitas
            b. akibat reaksi imunitas
            c. infeksi, plasmodium, boriella


B.     Saran
Sebagai mahasiswa yang tak pernah lepas dari kata belajar. Begitu pula dalam pembuatan asuhan keperawatan ini, yang jauh dari kesempurnaan. Olehnya kami menerima saran dari pembaca demi terciptanya asuhan keperawatan berikutnya yang lebih baik.











DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC
Handayani Wiwik dan Andi Sulistyo. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika

0 komentar:

Posting Komentar