Sabtu, 19 Januari 2013

askep demam typoid



BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Definisi
Demam Typoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari tujuh hari, gangguan cerna dan gangguan kesadaran.
Demam typoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakteremia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi nodus peyer di distal ileum. Yang disebabkan oleh salmonella thypi, ditandai adanya demam 7 hari atau lebih, gejala saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. Dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ).
Demam Tifoid juga dikenali dengan nama lain yaitu Typhus Abdominalis.
2.2     Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella thyposa, thyposa yang merupakan kuman negatif, dan tidak menghasilkan spora, hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia, maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 700C dan antiseptic.
Salmonella mempunyai tiga macam antigen yaitu :
·      Antigen O (somatic, terdiri dari zaPt komplek liopolisakarida)
·      Antigen H (flagella)
·      Antigen Vi dan protein membrane hialin
Ketiga jenis antigen ini di manusia akan menimbulkan tiga macam antibodi yang lazim disebut agglutinin.


2.3     Patofisiologi
Penularan  s. Typhy  terjadi melalui mulut oleh makanan yang tercemar. Sebagian kuman akan di musnahkan dalam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus, mencapai jaringan limpoid dan ber kembang biak.
Proses penyakit di bagi dalam 3 fase :
Salmonela typhi melalui air dan makanan yang terkontaminasi masuk kedalam tubuh  dengan mekanisme penyakitnya sebagai berikut:
1.   Infasi terhadap jaringan limpoid intestinal dan proliferasi bacteri. Fase ini berlangsung 2 minggu; asimpthomatis.
2.   Infasi aliran darah bacteraemia menyebabkan meningkatnya suhu tubuh. Terjadi reaksi imunologi sampai fase berikutnya dalam 10 hari.  Kultur darah dan urine positif selama periode febris. Antibodi S.Typhy tampak dalam darah. Test widal positif pada akhir fase ini.
3.   Lokalisasi bakteri dalam jaringan limfoid intestinal nodus masenterik gall bladder, hati, limpa. Terjadi nekrosis lokal reaksi hipersentifitas antigen antibodi.












Pathway :
                                                         Infeksi oleh S. Typhi per oral
                           Pada epitel bagian proksimal usus halus à sel lekosit mononuklear
                Dalam limfokel pada lamina propria usus halus, plaque peyer à Pembuluh limfe
Text Box: HypertermiaPeredaran darah à dalam waktu 24 – 72 jam à bakterimia pertama
Zat pirogen                  Organ – organ (hati, limpha, sumsum tulang)         
(panas meningkat)
                       Berkembang biak dalam retikuloendotelial à endotoksin à bakterimia kedua
Text Box: Ggn pemenuhan nutrisi

                                                       Peredaran darah/bakterimia      
   Lidah kotor                                 Kelenjar limphoid usus halus
   Diare         (tukak pd mukosa usus/plak)                                                                                   
Text Box: Ggn kebutuhan cairan

   Bibir kering
   Mual/muntah  
Text Box: Intoleransi aktfitas                  Endotoksin à bahan prokoagulan
 Bedrest                         Perdarahan (perforasi peritonitis)               
Kelemahan
2.4  Manifestasi Klinis
Gejala-gejala yang timbul bervariasi,
Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan peningkatan suhu badan.
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam bradikardi relatif,lidah typoid(kotor ditengah,tepi dan ujung merah dan tremor),hepatomegali,splenomegali,meteorismus,gangguan kesadaran berupa samnolen sampai koma,sedangkan roseolae jarang ditemukan pada orang indonesia.
Demam typoid pada anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Masa awal10-20 hari, yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal, perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat
2.5     Pemeriksaan Penunjang
Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi biakan darah negatif tidak menyingkirkan demam typoid. Peningkatan uji titer widal empat lipat selama 2-3 minggu memastikan diagnosis demam typoid.
Pemeriksaan Laboratorium melalui:
1.    Pemeriksaan leukosit
Pemeriksaan leukosit ini tidaklah sering dijumpai, karena itu pemeriksaan jumlah leukosit ini tidak berguna untuk diagnosis demam typoid.
2.    Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi kembali ke normal setelah sembuhnya demam typoid. Kenaikan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan pembatasan pengobatan.
3.    Biakan darah
Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi biakan darah negatif tidak menyingkirkan demam typoid
4.    Uji widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella typhi terdapat dalam serum pasien demam typoid, juga pada orang yang pernah ketularan salmonella typhi dan juga para orang yang pernah divaksinasi terhadap demam typoid.
Dari pemeriksaan widal, titer antibodi terhadap antigen O yang bernilai > 1/200 atau peningkatan > 4 kali antara masa akut dan konvalensens mengarah kepada demam typoid, meskipun dapat terjadi positif maupun negatif palsu akibat adanya reaksi silang antara spesies salmonella. Diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan kuman salmonella typhi pada biakan empedu yang diambil dari darah klien.
Akibat infeksi oleh kuman salmonella typhi pasien membuat antibodi (aglutinin), yaitu:
a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen (berasal dari tubuh kuman).
b. Aglutinin H, berasal dari rangsangan antigen H (berasal dari flagella kuman).
c. Aglutinin Vi, karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpel kuman).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typoid.

·      Faktor-faktor yang mempengaruhi uji widal
Faktor yang berhubungan dengan klien:
a.    Keadaan umum: gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit satu minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
b.    Penyakit-penyakit tertentu: ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
c.    Pengobatan dini dengan antibiotika: pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
d.   Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid: obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.
e.    Vaksinasi dengan kotipa atau tipa: seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.
f.     Infeksi klien dengan klinis/ subklinis oleh salmonella sebelumnya: keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah.
g.    Reaksi anamnesa: keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella dimasa lalu.
2.6     Komplikasi
Komplikasi pada demam typoid dapat terjadi pada usus halus, umumnya jarang terjadi bila terjadi sering fatal diantaranya adalah:
a. Perdarahan Usus, bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila berat dapat disertai perasaan nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan.
b. Perforasi Usus, timbul biasanya pada minggu ke-3 atau setelah itu dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara dirongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma. Pada foto rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
c. Peritonitis, biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus halus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang (defense musculair) dan nyeri tekan.
Komplikasi di usus halus, terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterimia) yaitu meningitis, kolesistitis, ensefalopati dan lain-lain, terjadi karena infeksi sekunder yaitu Bronkopneumonia. Dehidrasi dan asidosis dapat timbul akibat masukan makanan yang kurang dan respirasi akibat suhu tubuh yang tinggi.
2.7     Penatalaksanaan Medis
Pilihan pengobatan mengatasi kuman Salmonella typhi yaitu ceftriaxone, ciprofloxacin, dan ofloxacin. Sedangkan alternatif lain yaitu “trimetroprin, sulfametoksazol, ampicilin dan cloramphenicol”.



Pengobatan demam typoid terdiri atas 3 bagian, yaitu:
1.    Perawatan
Pasien demam typoid perlu dirawat di Rumah Sakit untuk isolasi, observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Maksud tirah baring adalah untuk mencegah perdarahan usus. Mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
2.    Diet
Di masa lampau, pasien demam typoid diberi bubur saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Pemberian bubur saring tersebut dimaksudkan untuk menghindari komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus, karena ada pendapat bahwa usus perlu di istirahatkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan selai kasar) dapat diberikan dengan aman pada pasien demam typoid.
3.    Obatatau terapi
Obat-obatan antimikroba yang sering dipergunakan, ialah:
a. Kloramfenikol, dosis hari pertama 4 kali 250 mg, hari kedua 4 kali 500 mg, diberikan selama demam dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 4 kali 250 mg selama 5 hari kemudian.
b. Tiamfenikol Dosis dan efektifitas tiamfenikol pada demam typoid sama dengan kloramfenikol. Komplikasi hematologis pada penggunaan tiamfenikol lebih jarang dari pada kloramfenikol. Dengan tiamfenikol demam pada demam typoid turun setelah rata-rata 5-6 hari.
c. Ampicilin dan Amoxilin, efektifitas keduanya lebih kecil dibandingkan dengan kloramfenikol. Indikasi mutlak penggunaannya adalah klien demam typoid dengan leukopenia. Dosis 75-150 mg/kg berat badan, digunakan sampai 7 hari bebas demam.
d. Kontrimoksazol (kombinasi trimetroprin dan sulfametaksazol), efektifitas nya kurang lebih sama dengan kloramfenikol.
 Dosis untuk orang dewasa 2 kali 2 tablet sehari digunakan sampai 7 hari bebas demam turun setelah 5-6 hari.
e. Sepalosporin generasi ketiga, beberapa uji klinis menunjukkan bahwa sepalosporin generasi ketiga antara lain sefoperazon, cefriaxone, cefotaxim efektif untuk demam typoid.
f. Fluorokinolon, Fluorokinolon efektif untuk demam typoid, tetapi dosis dan lama pemberian yang optimal belum diketahui dengan pasti.
Selain dengan pemberian antibiotik, penderita demam typoid juga diberikan obat-obatsimtomatik antara lain:
a. Antipiretika tidak perlu diberikan secara rutin setiap klien demam typoid karena tidak berguna.
b. Kortikosteroid
Klien yang toksit dapat diberikan kortikosteroid oral atau parenteral dalam pengobatan selama 5 hari. Hasilnya biasanya sangat memuaskan, kesadaran klien menjadi baik, suhu badan cepat turun sampai normal, tetapi kortikosteroid tidak boleh diberikan tanpa indikasi, karena dapat menyebabkan perdarahan intestinal dan relaps.










BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1.    Identitas
Nama dan umur untuk panggilan dan membedakan klien yang satu dengan yang lain.
Dapat terjadi pada anak laki-laki dan perempuan, kelompok umur yang terbanyak adalah diatas umur 5 tahun.
Faktor yang mendukung terjadinya demam tyfhoid adalah iklim tropis, social, ekonomi yang rendah, sanitasi lingkungan yang kurang.

a.    Keluhan utama : panas atau demam yang tidak turun-turun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah, anorexia, diare serta penurunan kesadaran
b.    Riwayat penyakit sekarang : peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella thypi kedalam tubuh
c.    Riwayat penyakit dahulu : Apakah Sebelumnya pernah menderit demam typoid.
d.   Riwayat Kesehatan Keluarga : Keluarga ada yang karier
e.    Riwayat psikososial dan spiritual : Kelemahan dan gangguan interaksi sosial karena bedrest serta terjadi kecemasan.

2.    Pemeriksaan fisik
1)      Kepala
2)      Mata: kelopak mata cekung, pucat, dilatasi pupil, konjungtiva pucat kadang didapat anemia ringan.
3)      Mulut:  mukosa bibir kering, pecah-pecah, bau mulut tidak sedap. Terdapat baslag lidah dengan tanda-tanda lidah tampak kering, dilatasi selaput tebal dibagian ujung dan tepi lidah nampak kemerahan, lidah tremor jarang terjadi.
4)      Thorak: jantung dan paru tidak ada kelainan kecuali jika ada komplikasi. Pada daerah perangsamg ditemukan resiola spot.
5)      Abdomen: adanya nyeri tekan, adanya pembesaran hepar dan limpa, distensi abdomen, bising usus meningkat
6)      Ekstremitas: terdapat rosiola dibagian fleksus lengan atas



3. Fungsional Gordon
a)    Pola nutrisi dan metabolisme, Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah,makan 2 sendok.
b)   Pola aktifitas dan latihan, Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
c)    Pola tidur dan aktifitas, kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur.
d)   Pola eliminasi, Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena panas yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
e)    Pola reproduksi dan sexual, Pada pola reproduksi pada pasien tidak mengalami perubahan.
f)    Pola persepsi dan pengetahuan, Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
g)   Pola persepsi dan konsep diri, Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
h)   Pola penanggulangan stress, Stres timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
i)     Pola hubungan interpersonal, Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit.
j)     Pola tata nilai dan kepercayaan, Timbulnya distres dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan menjadi cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu.
k)   Pola mekanisme koping, klien lebih cenderung mengurung diri di kamar.


Analisa data
NoDx
Data
Eiologi
Masalah
1.
DS: keluarga mengatakan panas sejak 2 hari yang lalu,kulit kemerahan,.mual dan muntah.
DO: S: 36,5-37,50C
TD: 80-120/60-80 mmhg
N: 80-100x/mnit
S: 36,5-370C
RR: 24-32x/mnit
lidah putih kotor, panas meningkat pada siang dan malm hari,pasien lemah.
Proses infeksi S. Thypi.
Peningkatan suhu tubuh (hypertermi)
2.
DS: keluarga mengatakan nafsu makan tidak ada, kadang mual, dan badan terasa lemah, mengeluh pusing, cepat lelah.
DO:
A=BB:<45
B=Hbmenurun
C=Lemah, pucat, dan panas
D=Makan 2 sendok
: 36,5-37,50C
TD: 80-120/60-80 mmhg
N: 80-100x/mnit
S: 36,5-370C
RR: 24-32x/mnit

Asupan nutrisi tidak adekuat
Gangguan nutrisi
3.
S: Klien mengeluh badan terasa lemah, pusing saat berdiri.
O: Klien bedrest,
S: 36,5-37,50C
TD: 80-120/60-80 mmhg
N: 80-100x/mnit
S: 36,5-370C
RR: 24-32x/mnit

kebutuhan mandi, eliminasi, makan minum, berpakaian klien dibantu oleh keluarga dan petugas.
Kelemahan fisik dan immobilisasi
Intoleransi aktifitas

3.2     DIAGNOSA
1.    Peningkatan suhu tubuh (hypertermi) b/d proses infeksi salmonella typhi
2.    Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia
3.    Intoleransi aktifitas b/d kelemahan dan  immobilisasi.

3.3 PERENCANAAN
1.    Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi

No Dx
Tujuan & KH
Intervensi
Rasional
1.
Tujuan: Hipertermi teratasi
Kriteria hasil:

1.                  1. TTV dalam batas normal:
S: 36,5-37,50C
TD: 80-120/60-80 mmhg
N: 80-100x/mnit
S: 36,5-370C
RR: 24-32x/mnit,

2.         2.  tidak terjadi komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid



N: 60-90x/menit
Td:100/80
1.Observasi TTV
                   





2. Catat intake dan output cairan dlm 24 jam





3.Kaji sejauhmana pengetahuan keluarga dan pasien tentang hyperthermia


4.Jelaskan upaya – upaya untuk mengatasi hypertermia dan bantu klien/keluarga dlm upaya tersebut:
a.Tirah baring dan kurangi aktifitas
b.Banyak minum
c.Beri kompres hangat
d.Pakaian tipis dan menyerap keringat
e.Ganti pakaian, seprei bila basah
f.Lingkungan tenang, sirkulasi cukup.

5.Anjurkan klien/keluarga untuk melaporkan bila tubuh terasa panas dan ada keluhan lain.


6.Kolaborasi pengobatan:antipiretik,(paracetamol 3x500 mg),cairan (Dextrose 5% dan Ringer Laktat maintenance 20 tts/mnt) cairan dan pemeriksaan kultur darah.
1.Sebagai pengawasan terhadap adanya perubahan keadaan umum pasien sehingga dapat diakukan penanganan dan perawatan secara cepat dan tepat.

2.Mengetahui keseimbangan cairan dalam tubuh pasien untuk membuat perencanaan kebutuhan cairan yang masuk.


3.Mengetahui kebutuhan infomasi dari pasien dan keluarga mengenai perawatan pasien dengan hypertemia.

4.Upaya–upaya tersebut dapat membantu menurunkan suhu tubuh pasien serta meningkatkan kenyamanan pasien.










5.Penanganan perawatan dan pengobatan yang tepat diperlukan untuk megurangi keluhan dan gejala penyakit pasien sehingga kebutuhan pasien akan kenyamanan terpenuhi.

6.Antipiretik dan pemberian cairan menurunkan suhu tubuh pasien serta pemeirksaan kultur darah membantu penegakan diagnosis typhoid.


2.Diagnosa Keperawatan: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
.
No Dx
Tujuan & KH
Intervensi 
Rasional
2.
Tujuan :
resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi

Kriteria Hasil:
1.     TTV normal:
Td:100/80-120/90mmHg
N  :60-90x/menit
RR :16-24x/menit
T :36,5-37,50C

2.    Klien dapat mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan nutrisi.
3.    Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat

4.       4. Tidak pucat, anoreksia hilang, bibir lembab dan tidak pecah-pecah, lidah bers

5.            5. Nafsu makan bertambah.
1.      Timbang BB tiap hari.



2.      Berikan pendidikan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebutuhan nutrisi

3.      Anjurkan untuk oral care sebelum makan.



4.      Anjurkan untuk makan sedikit tapi sering



5.      Awasi glukosa darah.


6.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberi diet pasien
1.      Memonitor kurangnya BB dan efektfitas intervensi nutrisi yang diberikan.

2. Menambah pengetahuan tentang nutrisi




3. Mengurangi rasa tidak enak di mulut yang bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan

4. Ada pasien yang tidak bisamenghabiskan porsi yang  disiapkan sekaligus

5.Hipoglikemia dapat terjadi pada klien dengan anoreksi.

6. Untuk membuat program diet kebutuhan pasien.

3.Diagnosa keperawatan: Intoleransi aktifitas b/d kelemahan dan  immobilisasi.

No Dx
Tujuan & KH
Intervensi
Rasional
3.
Tujuan:Setelah dilkukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan ADL dapat terpenuhi dengan

Kriteria hasil :
1.    TTV:
N: 60- 90x
TD:100/80-120/90mmHg
T: 36,5-37,50C
RR:16-24x/menit

2.    Menunjukkan peningkatan dalam beraktifitaas

3. Mobilisasi aktif

1.Bantu pemenuhan kebutuhan ADL klien seperti makan, mandi, berpakaian, eliminasi


2.Tingkatkantirah baring/duduk.Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung sesuai keperluan.







3.Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.



4.Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.

5.Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.

6.Dorong penggunaan teknik manajemen stres

1.Membantu memenuhi kebutuhan ADL klien sehingga klien merasa nyaman dan kebutuhan perawatannya terpenuhi.

3.      Meningkatkan istirahat dan ketenangan. Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Aktifitas dan posisi duduk tegak diyakini meurunkan aliran darah ke kaki, yang mencegah sirkulasi optimal ke organ pencernaan.

3.Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.


4.Memungkinkan perode tambahan istirahat tanpa gangguan.

5.Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktifitas yang mengganggu periode istirahat.

6.Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping.







3.4 IMPLEMENTASI
Tgl/Jam
No.Dx
Implementasi
Respon Pasien
Ttd
14-8-2011
08.00


08.30

09.00















09.30
1.
1. Mengobservasi TTV



2.Mencatat intake dan output cairan dlm 24 jam
3.Menjelaskan upaya – upaya untuk mengatasi hypertermia dan bantu klien/keluarga dlm upaya tersebut:
a.       Tirah baring dan kurangi aktifitas
b.      Banyak minum
c.       Beri kompres hangat
d.      Pakaian tipis dan menyerap keringat
e.       Ganti pakaian, seprei bila basah
f.       Lingkungan tenang, sirkulasi cukup.
4.Memberikan antipiretik, (paracetamol 3x500 mg), cairan (Dextrose 5% dan Ringer Laktat maintenance 20 tts/mnt) cairan dan pemeriksaan kultur darah.
S:Klien tenang
O:T:400C,
TD:110/70mmHg,RR:20x/mnt,N:88x/menit.
S: Klien kooperatif
O: Infus netes lancar
·     S:Klien dan keluarga memahami dan akan melaksanakan
O:Klien mampu melaksanakannya.









S: Klien kooperatif untuk minum obat
O: Obatsudah diminum, mual(-),muntah(-), pusing (-).

14-8-2011
08.00




1.Menimbang BB tiap hari.

2.Menganjurkan untuk oral care sebelum makan.
3.Menganjurkan untuk makan sedikit tapi sering

4.Memberikan diet pada pasien.

S: Klien kooperatif
O: BB belum meningkat
S: Klien merasa nyaman
O: Klien menyikat gigi

S:Klien merasa tenang
O: Klien menghabiskan ½ porsi

S:klien kooperatif
O:-

14-8-2011
08.00





08.30
3.
1.Membantu pemenuhan kebutuhan ADL klien seperti makan, mandi, berpakaian, eliminasi
2.Meningkatkan tirah baring/duduk.Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung sesuai keperluan



3.Membamtu teknik manajemen stress
S:Klien memahami dan makanan habis ½ porsi
O: Klien merasa nyaman

S:Klien mengatakan paham dengan penjelasaan yang diberikan
O:Klien dapat istirahat dengan tenang.

S: Pasien merasa tenang
O: Klien mampu melakukannya






3.5     EVALUASI
No dx
Tgl/ Jam
Evaluasi
Ttd
1.
14-8-2011
13.00
S: Klien mengatakan suhu badannya menurun,pusing berkurang, istirahat kurang lebih 7 jam.
O:T:400C,TD:110/70mmHg, RR:20x/mnt,N:88x/menit,pucat berkurang, lidah tidak kotor, nafsu makan meningkat, mual berkurang,
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi dilanjutkan

2.

S : Klien mengatakan menghabiskan 1/2 porsi yang disiapkan,nafsu makan meningkat
O: BB 46,2 Kg,lemah, bedrest total, bibir kering, anoreksia berkurang,
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi di lanjutkan.

3.

S: Klien mengatakan lemah dan pusing berkurang
O:Klien masihmembutuhkan bantuan keluarga dan perawat dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri (makan, mandi, eliminasi).
A:Masalah belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan




BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPUlAN
Demam Typoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari tujuh hari, gangguan cerna dan gangguan kesadaran.
Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella thyposa, thyposa yang merupakan kuman negatif, dan tidak menghasilkan spora, hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 700C dan antiseptic.
Manifestasi klinis demam typoid adalah demam,gangguan pada saluran pencernaan,gangguan kesadaran.
4.2 SARAN
Agar kita dapat terhindar dari demam typoid maka kita harus dapat memperhatikan pola hidup dan asupan nutrisi tubuh kita dan menjaga agar tidak mudah terserang oleh bakteri kembali.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar