Kamis, 27 September 2012

MAKALAH Akhlak (tugas kemuhammadiyahan)




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

            Sebagaimana telah kita ketahui bahwa komponen utama agama islam adalah akidah, syari’ah, dan akhlak. Penggolongan itu didasarkan pada penjelasan Nabi Muhammad kepada Malaikat Jibril di depan para sahabatnya mengenai arti islam, iman, dan ihsan yang ditanyakan Jibril kepada Beliau.

Setiap muslim meyakini, bahwa Allah adalahsumber segala sumber dalam kehidupannya. Allah adalah pencipta dirinya,pencipta jagad raya dengan segala isinya, Allah adalah pengatur alam semestayang demikian luasnya.Allah adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalamkehidupan manusia, dan lain sebagainya. Sehingga manakala hal seperti inimengakar dalam diri setiap muslim, maka akan terimplementasikan dalam realitabahwa Allah lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak.Jika kita perhatikan, akhlak terhadap Allahini merupakan pondasi atau dasar dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada dimuka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah,maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikianpula sebaliknya, jika ia memiliki akhlak yang karimah terhadap Allah, maka inimerupakan pintu gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain.

Segala perbuatan yang dilakukan manusia tidak terlepas dari konsep akhlak. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ruang lingkup akhlak sangat luas. Kata akhlak memiliki kemiripan makna dengan etika, moral, dan budi pekerti, sehingga makna akhlak sering disamakan dengan etika, moral, dan budi pekerti.

Ruang lingkup akhlak dalam pandangan syariat Islam sangat luas. Akhlak tidak hanya membahas masalah etika pergaulan dan sopan santun saja, tetapi meliputi pola pikir, selera, pandangan, sikap, perilaku, kecenderungan, dan keinginan yang ada pada seseorang.

Dalam Islam, akhlak mempunyai ruang lingkup yang lebih luas. Selain terkait dengan muamalah, akhlak dalam Islam juga meliputi masalah ibadah, sosial, hukum, dan lain-lain. Salah satu contohnya, yaitu akhlak terhadap Allah swt. Misalnya, adanya kewajiban menjalankan rukun Islam dan rukun iman. Ketika sudah melaksanakan syahadat, salat, dan puasa, berarti kita dikatakan berakhlak terhadap Allah swt.




 B.   Rumusan Masalah 
            Apa sajakah yang termasuk dalam Akhlak ?


C.   Tujuan
          Untuk mengetahui perbuatan apa saja yang termasuk Akhlak.



















                                                                                                                  
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akhlak

          Dalam etimologi arti akhlak adalah kebiasaan atau perbuatan.
MenurutProf. Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak adalah kebiasaan, kehendak.Di dalam Ensiklopedi pendidikan bahwa akhlak adalah budi pekerti, watak, kesusilaan yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia.
Sedangkan akhlak menurut Iman Al-Ghozaly, Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan.
Jadi pada hakekatnya Akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah menetap dalam jiwa dan kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa pemikiran.

B. Syarat dan Pembagian Akhlak
Ø Suatu perbuatan baru dapat disebut sebagai cerminan akhlak, jika memenuhi syarat :
1.      Dilakukan berulang-ulang sehingga hampir menjadi suatu kebiasaan.
2.      Timbul dengan sendirinya, tanpa pertimbangan yang lama dan di pikir-pikir terlebih dahulu.

v  Secara garis besarnya akhlak dibagi dua, yaitu :
1.      Akhlak terhadap Allah SWT.
2.      Akhlak terhadap makhluk (semua ciptaan Allah SWT.)

v  Akhlak terhadap makhluk dapat dibagi dua, yaitu :
1.      Akhlak terhadap manusia
2.      Akhlak terhadap bukan manusia

v  Akhlak terhadap manusia dibagi dua, yaitu :
1.      Akhlak terhadap diri sendiri
2.      Akhlak terhadap orang lain

v  Akhlak terhadap bukan manusia dibagi dua, yaitu :
1.      Akhlak terhadap makhluk hidup bukan manusia, seperti akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan (flora) dan hewan (fauna)
2.      Akhlak terhadap makhluk (mati) bukan manusia, seperti akhlak terhadap tanah, air, udara dsb. Akhlak terhadap manusia dan bukan manusia, kini disebut akhlak terhadap lingkungan hidup.
C. Akhlak Kepada Allah
            Akhlak kepada allah(Muamalat ma allah) dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada tuhan sebagai khalik. Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Tidak diciptakan Jin dan Manusia Melainkan untuk Beribadah”.
                         
Ada empat alasan, sehingga manusia perlu berakhlak kepada allah swt yaitu :

Pertama karena allahlah yang menciptakan manusia.Dia yang menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari tulang punggung dan tulang rusuk hal ini sebagai mana di firmankan oleh Allah dalam surat at-Thariq ayat 5-7.

٧فلينظرالانسان مم خلق(٥) خلق من ماء دافق(٦) يخرج من بين الصلب والترائب(
Artinya : (5) "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?, (6). Dia tercipta dari air yang terpancar, (7). yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada.

Kedua karena allahlah yang telah memberikan kelengkapan panca indra, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari.disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Firman Allah dalam surat, an-Nahl ayat, 78.
والله اخرجكم من بطون امها تكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والا بصار والا فئدة لعلكم تشكرون 
Artinya: "Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. ( Q.S an-Nahal : 78)


Ketiga allahlah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidupmanusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh tumbuhan, air, udara, binatang ternak, dan lain lain. Firman Allah dalam surat al-Jatsiyah ayat 12-13.

 الله الذي سخرلكم البحر لتجري الفلك فيه بامره ولتبتغوا من فضله ولعلكم تشكرون (١٢
 
و سخرلكم ما في السموات وما في الارض جميعا منه ان في ذلك لايت لقوم يتفكرون
(
الجا ثية: ١٢-١٣)

Artinya (13) "Allah-lah yang menundukkan lautan untuk kamu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (13), "Dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang berpikir.(Q.S al-Jatsiyah :12-13 ).

Keempat , allahlah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan. Firman Allah dalam surat Al-Israa' ayat, 70.

ولقد كرمنا بني ادم وحملنهم في البر والبحر ورزقنهم من طيبت وفضلنهم على كثيرممن خلقنا تفضيلا (الاسراء٧٠

Artinya:  "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam, Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami beri mereka dari rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S al-Israa : 70).


v  Akhlak kepada Allah SWT terbagi menjadi dua jenis yaitu :
1. Akhlak baik atau terpuji yakni perbuatan baik kepada Allah SWT.
2. Ahklak buruk atau tercela yakni perbuatan buruk terhadap Allah SWT.


1. Akhlak Baik terhadap Allah SWT. antara lain :

a. Al-Hubb, yaitu mencintai Allah SWT. melebihi cinta kepada apa dan siapapun juga dengan mempergunakan firman-Nya dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan kehidupan. Kecintaan kita kepada Allah SWT. diwujudkan dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

b. Al-Raja, yaitu mengharapkan karunia dan berusaha memperoleh keridhaan Allah SWT. Atau rasa dan sikap yang penuh keyakinan bahwa Allah SWT adalah tempat segala harap. Sikap raja atau hidup yang optimis dan penuh harap sangat penting bagi manusia sebab kehidupan di dunia ini penuh cobaan. Dan sikap raja harus dimanifestasikan dalam kehidupan yang penuh optimis dan harus diwujudkan dalam ikhtiar dan doa karena segala amal tidak akan sia-sia dihadapan Allah SWT.
c. As-Syukr, yaitu menyatakan terimah kasih dan mensyukuri segala nikmat dan karunia Allah SWT yang diterimanya dalam bentuk ucapan maupun tindakan. Karena dengan bersyukur kita akan terhindar dari kufur yang akan membawa malapetaka dalam kehidupan kita.
d. Qana’ah, yaitu menerima dengna ikhlas semua qadha dan qadhar Allah SWT. Setelah berikhtiar maksimal (sebanyak-banyaknya, hingga batas tertinggi). Dan sifat Qona’ah ini merupakan sikap lanjut dari Al-Hubb dan hendaknya manusia tidak keberatan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah SWT.
      e. Taqwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya baik     secara sembunyi maupun terang-terangan
f. At-Taubat, yaitu bertaubat hanya kepada Allah SWT. Taubat yang paling tinggi adalah taubat nasuha yaitu taubat benar-benar taubat, tidak lagi melakukan perbuatan sama yang dilarang Allah SWT. dan dengan tertib melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
g. Tawakal, yaitu mempercayakan diri kepada Allah SWT dalam melaksanakan suatu rencana, bersandar kepada kekuatannya dalam melaksanakan pekerjaannya.
    2. Akhlak buruk terhadap Allah, antara lain :
a.       Takabbur (Al-Kibru), yaitu sikap yang menyombongkan diri, sehingga tidak mau mengakui kekuasaan Allah SWT di alam ini, termasuk mengingkari nikmat Allah SWT yang ada padanya.
b.      Musyrik (Alk-Syirk), yaitu sikap yang mempersekutukan Allah SWT dengan makhluk-Nya, dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu makhluk yang       menyamai kekuasaan-Nya.
c.       Murtad (Ar-Riddah), yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama Islam, untuk menjadi kafir.
d.      Munafiq (An-Nifaaq), yaitu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya dalam kehidupan beragama.
e.       Riya’ (Ar-Riyaa’), yaitu sikap yang selalu menunjuk-nunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya. Maka ia berbuat bukan karena Allah SWT. melainkan hanya ingin     dipuji oleh sesama manusia. Jadi perbuatan ini kebalikan dari sikap ikhlas.
f.       Boros atau Berfoya-foya (Al-Israaf), yaitu perbuatan yang selalu melampaui batas-batas ketentuan agama. Allah SWT melarang bersikap boros, karena hal itu dapat melakukan dosa terhadap-Nya, merusak perekonomian manusia, merusak hubungan sosial dan merusak diri sendiri.
g.      Rakus atau Tamak (Al-Hirshu atau Ath-Thama’u), yaitu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan orang lain. Hal ini termasuk kebalikan dari rasa cukup (Al-Qanaa’ah)        dan merupakan akhlak buruk terhadap Allah SWT. karena melanggar ketentuan larangan-Nya.
D.   Akhlak Terhadap Makhluk

1. Akhlak Baik terhadap Manusia, diantaranya :
Ø  Akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad SAW.), diantaranya :
1.      Mencintai Rasulullah SAW. secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya.
2.      Menjadikan Rasulullah SAW. sebagai idola, suri teladan dalam hidup dan kehidupan.
3.      Menjalankan apa yang disuruh-Nya, tidak melakukan apa yang dilarang-Nya.

Ø  Akhlak terhadap Orang Tua (birrul walidain)
Akhlak kepada orang tua didasarkan pada surat al-Isra ayat 23-24: Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah :’Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Dari ayat di atas terlihat jelas bagaimana penting dan besarnya arti diri orang tua di sisi Allah SWT. Jika beribadah kepada Allah wajib maka berbakti kepada kedua orang tua juga wajib. Sebaliknya, kalau ingkar kepada-Nya adalah dosa besar, begitu pula durhaka kepada orang tua. Dan berbuat baik kepada orang tua bukan hanya semasa hidupnya akan tetapi sampai matipun anak tetap wajib berbakti kepada mereka.

Sekiranya suatu saat usia mereka sudah diambang senja, janganlah kita menghardik, mencaci, memukul, serta perbuatan-perbuatan keji lainnya, mengucapkan kata “ah” saja terlarang sebagaiman dalam ayat diatas apalagi perbuatan-perbuatan yang lebih daripada itu. Dan yang patut dilakukan adalah berbicara kepada mereka dengan lemah lembut, sikap rendah diri, suara tidak melebihi suara mereka, dan itu semua adalah ahlak utama seorang anak.

Abu Dawud meriwayat suatu hadis: "Bahwa seorang laki-laki yang berasal dari Yaman hijrah ke Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam. Ia berkata : ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sekarang sudah hijrah!’ Beliau bertanya ‘Sudahkah mereka memberimu izin ?’ jawabnya : ‘Belum’ sabda Beliau, ‘Pulanglah dan minta ijinlah kamu kepada mereka. Kalau sekiranya mereka memberimu izin, silahkan berjuang. Tetapi kalau tidak, berbuat baiklah kamu kepada mereka.”

Di sini agama Islam meletakkan keagungan orang tua dihadapan anak-anaknya dalam rangka berbakti dan berjuang di jalan Allah. Bukan semata-mata jihad kemudian orang tua ditinggalkan begitu saja tanpa dimintai izin sama sekali. Bahakan berangkat ke medan peperangan dinomorduakan jika memang belum memenuhi kebaktiannya kepada orang tua. Dalam sebuah riwayat Imam Muslim disebutkan: “Rugilah, rugi sekali, rugi sekali, seseorang yang mendapati salah seorang dari kedua orang tuanya atau kedua-duanya sewaktu mereka sudah diambang senja, dan tidak memasukkan ia kedalam surga “

Sungguh sayang bahwa orang tua masih ada, apalagi sudah tua yang seharusnya dapat memasukkan dia kedalam surga, tetapi ternyata tidak dapat memasukkan dia ke dalam surga dikarenakan durhaka kepada mereka dan tidak berbakti kepada mereka. Betapa banyak manusia-manusia yang sampai begitu tega tidak menghormati orang tuanya bahkan memperlakukan mereka dengan perlakuan yang kasar dan menganggap mereka bagaikan pembantu rumah tangga yang siap melayani tuannya. Sungguh ironis sekali orang tua yang telah mendidik dan mengasuh anaknya dengan sekuat tenaga, ternyata sesudah besar begitu saja balas budinya.

Memperlakukan orang tua dengan baik termasuk amalan besar dan yang paling dicintai oleh Allah. Dari Abdullah bin Mas’ud: “Aku pernah bertanya kepada nabi Salallahu Alaihi Wa Salam: ‘Amal yang manakah yang paling dicintai oleh Allah ?’ Jawab beliau :’Shalat pada waktunya’. Aku bertanya lagi:’Kemudian amal apa ?’ Jawab beliau :’’Berbuat baik pada orang tua’. Aku bertanya kagi:’Sesudah itu amal apa?’ Jawab beliau :’Jihad di jalan Allah”(HR Bukhari Muslim).
Dalam hal berbuat kebaikan kepada orang tua, memang sepantasnya ibu lebih banyak dicurahkan. Ini mengingat kerja payahnya semenjak ia mengandung sampai melahirkan ditambah lagi memenuhi semua keperluannya tidak pernah merasa bosan dan lelah. Dari Abu Hurairah: “Telah datang seorang laki-laki menghadap Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam lalu bertanya :’Wahai Rasulullah siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan cara bagus ?’ Jawab beliau :’Ibumu!’. Kemudian ia bertanya lagi ‘Sesudah itu siapa?’ Jawab beliau :’Ibumu!’. ia bertanya lagi:’Sesudah itu siapa ?’ Jawab beliau :’Ibumu!’. Ia bertanya lagi :’Sesudah itu siapa?’ Jawab beliau :’Bapakmu!”(HR Bukhari Muslim

Dan termasuk dosa besar bila seorang anak berbuat durhaka kepada orang tuanya. Rasulullah bersabda: “Termasuk dosa besar ialah seorang yang mencaci maki orang tuanya. Seseorang lalu bertanya:’Mungkinkah ada seseorang mencaci maki orang tuanya?’ Jawab beliau :’Ada! Dia mencaci maki bapak seseorang lalu orang itu membalas memaki bapaknya. Dia mencaci maki ibu seseorang lalu orang itu membalas memaki ibunya”(HR Bukhari Muslim).

Namun bagaiman bila orang tua kita bermaksiat dan musyrik kepada Allah, apakah kita tetap harus berbuat baik terhadap mereka? Islam memang menganjurkan untuk berbuat baik kepada orang tua secara umum, tetapi perlu diingat jika orang tua memaksakan kehendaknya untuk bermaksiat kepada Allah, maka hendaknya ditolak dengan lemah lembut dan penuh kesopanan. Dalam surat Luqman ayat 15 dijelaskan: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kamu kembali, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Nash Al-Qur'an tersebut diperkuat oleh hadis riwayat Imam Muslim: “Mendengar dan mentaati itu wajib bagi seorang muslim, menyangkut apa yang ia cintai maupun apa yang ia benci, selagi tidak disuruh untuk urusan maksiat. Kalau diperintah untuk maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak ada ketaatan”.

Contoh akhlak terhadap kedua orang tua adalah :
1.      Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya.
2.      Merendahkan diri kepada keduanya diiringi perasaan kasih sayang.
3.      Berkomunikasi dengan orang tua dengan hikmat, mempergunakan kata-kata lemah lembut.
4.      Berbuat baik kepada bapak-ibu dengan sebaik-baiknya, dengan mengikuti nasehat baiknya, tidak menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat bapak-ibu ridha.
5.      Mendo’akan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-duanya telah meninggal dunia.

Ø  Akhlak terhadap Diri Sendiri, diantaranya :
1.      Memelihara kesucian diri.
2.      Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh kelihatan, menurut hukum dan akhlak Islam).
3.      Jujur dalam perkataan dan berbuat ikhlas serta rendah diri.
4.      Malu melakukan perbuatan jahat.
5.      Menjauhi dengki dan menjauhi dendam.
6.      Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
7.      Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia.
Ø  Akhlak terhadap Keluarga, diantaranya :
1.      Sering bersilaturahim ke kerabat
Tidak kurang banyaknya dalil yang menganjurkan silaturahim kepada kerabat dekat baik dari al-Qur'an ataupun hadis Rasulullah Saw. Allah berfirman: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri", (Q.S. an-Nisa': 36)

Sedangkan dalam hadis Rasulullah Saw. dikatakan, "Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaknya dia menyambung tali silaturrahim." (H.R. al-Bukhari dan Muslim)




2.      Mengetahui silsilah atau nasab kerabat
Pentingnya mengetahui dan menelusuri jalur nasab ini, pernah ditegaskan oleh Rasulullah saw.,"Pelajarilah nasab agar kamu dapat mengeratkan tali persaudaraanmu. Sebab bersilaturahim dapat menumbuhkan rasa cinta kasih dalam kekeluargaan, menambah kelapangan rizki, dan memperpanjang umur" (H.R al-Tirmidzi)
3.      Berbuat baik kepada kerabat
Menyinggung masalah tersebut, Allah menegaskan demikian: "Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya" (QS al-Baqarah: 215)
4.      Berlaku adil           
Walaupun Islam mengajarkan perhatian penuh dan berbuat baik kepada kerabat, tetapi sebagai perimbangan, Islam juga menyerukan kepada kita untuk berlaku adil kepada kerabat.Artinya, kalau memang kerabat kita berbuat salah sudah selayaknya kita berlakukan hukum dengan semestinya. Bukan perbuatan yang benar kalau kita membela mati matian kerabat dengan mencari kambing hitam kepada orang lain karena kedekatan kita dengannya.

Allah menggariskan kepada kita perlakuan adil, bahkan kepada orang terdekat sekalipun dalam ayat: "Dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat" (Q.S. al-Anam: 152).

Ø  Akhlak terhadap Tetangga, diantaranya :
1.      Mengenal tetangga
Kita sebagai orang yang hidup dalam sebuah komunitas masyarakat perkotaan akan dihadapkan pada kenyataan kehidupan yang individualistik. Hidup sendiri-sendiri, tidak saling mengenal.Dalam konteks seperti ini, tidak mengherankan bila kemudian antartetangga tidak saling mengenal.Karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

Padahal masalah bertetangga ini bagi seorang muslim sangatlah krusial. Tidak bisa dipandang sebelah mata. Hadis Rasulullah saw. di atas yang menganalogikan hubungan tetangga dengan hubungan saudara patut kita renungkan bersama. Karena itu, sudah sepantasnya kita pun senantiasa bisa minimal mengenal tetangga dan bersilaturahim padanya. Himbauan untuk saling mengenal ini termaktub secara eksplisit dalam Al-Qur'an: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat [49]:13)

2.      Berbuat baik kepada tetangga
Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya dia berkata benar atau diam saja." (H.R. al-Bukhari)

Sabda Rasulullah saw. di atas merupakan pelajaran berharga kepada kita semua. Salah satunya, perlakuan kita terhadap tetangga akan mendatangkan tindakan serupa dari pihak tetangga. Kalau kita memperlakukan tetangga dengan baik, maka mereka pun akan memperlakukan kita dengan baik, dan bahkan bisa lebih baik lagi. Nyaris tidak mungkin, bila kita menumpahkan kebaikan, namun mereka malah membalasnya dengan keburukan. Akan tetapi, jika kita memperlakukan mereka dengan buruk dan jahat, maka jangan harap mereka akan memperlakukan kita dengan baik. Artinya perbuatan kita kepada mereka akan terefleksi pada perbuatan mereka kepada kita. Apa yang kita tabur, maka itulah yang akan kita panen.
3.      Menjaga hubungan baik dengan tetangga
Perilaku ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Apakah kamu mengetahui hak tetangga?Hak tetangga adalah jika dia meminta pertolongan kepadamu, maka kamu menolongnya.Jika dia ingin meminjam sesuatu darimu, maka engkau pun meminjaminya.Jika dia berhajat, kamu membantunya.Apabila dia sakit, kamu menjenguknya.Apabila dia mati, kamu mengiring jenazahnya. Jika dia mendapatkan karunia nikmat, kamu memberikan salam atau selamat kepadanya. Jika dia mendapat bencana, kamu hibur batinnya. Jangan engkau meninggikan rumahmu melebihi rumahnya, sehingga menghalanginya dari mendapatkan angin segar kecuali dengan izinnya. Dan jika kamu membeli buah-buahan, maka hadiahkanlah kepadanya.Dan kalau tidak bisa menghadiahkan, maka masukkan buah-buaban itu ke rumah dengan sembunyi-sembunyi.Dan janganlah anak-anakmu itu membawa keluar buah-buahan itu untuk memanaskan hati anak tetanggamu.Dan janganlah kamu menyakitinya dengan bau periukmu, kecuali memberikan barang sedikit kepadanya." (HR. al-Kharaiti)
4.      Memberikan rasa aman kepada tetangga
Hal ini juga ditandaskan oleh Rasulullah Saw.dalam sabdanya, "Demi Allah, tidak Islam seorang hamba sehingga selamat semua orang dan gangguan hati tangan dan lisannya. Dan tidak beriman seorang hamba sehingga aman tetangganya dari gangguannya".Sahabat bertanya, “Apakah gangguan-gangguan itu, wahai Rasulullah Saw?'Beliau bersabda, "Tipuan dan aniaya." (H.R. Abu al-Laits as-Samarkandi)

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. juga mengecam keras siapa pun yang mengganggu tetangganya sehingga tetangganya seolah tidak memiliki rasa aman dalam kehidupannya sehari-hari, "Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, dan demi Allah tidak beriman". Para sahabat bertanya, "Siapakah yang tidak beriman itu, ya Rasulullah?'Beliau menjawab, "Dialah orang yang para tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya" (HR. al-Bukhari dan Muslim).


5.      Bersabar  terhadap perilaku tetangga yang kurang baik
         Dalam kehidupan bertetangga sepatutnya masing-masing tetangga bisa memosisikan dirinya secara tepat dan baik.Seorang tetangga mestinya bisa berlaku baik kepada tetangganya.Kebaikan dari seorang tetangga seharusnya dibalas dengan kebaikan pula. Air susu dibalas air susu. Begitu pula, jika tetangga berwatak tercela, mayoritas pembalasan dari tetangga pun juga tercela. Air tuba dibalas air tuba. Akan tetapi alangkah paling baik kalau kita sebagai seorang muslim bisa membalas air tuba dengan air susu.

Ø  Akhlak terhadap Kawan
1.      Mengasihi dan berbuat baik kepada teman
Allah berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q.S. an-Nisa': 36)
2.      Saling menasehati
Allah berfiman: “Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(Q.S. al-'Ashr: 1-3)
3.      Membantu teman.
Tidak selamanya orang itu berada dalam kondisi kecukupan dan kelebihan. Suatu masa dia pasti mengalami kekurangan yang membutuhkan uluran tangan orang lain. Maka, di sini peran teman lainnya sangat dibutuhkan. Entah itu bantuan berupa materi seperti uang, misalnya, ataupun bantuan nonmateri seperti dorongan dan dukungan ataupun doa. Akhlak Islam juga mengajarkan bahwa orang yang susah harus dibantu dengan sekuat tenaga.
4.      Kesetiakawanan
5.      Mendamaikan teman yang sedang berselisih
Dalam kitab Riyad ash-Salihin, Rasulullah Saw bersabda: “Setiap orang yang mendamaikan orang lain yang berseteru, maka baginya pahala sedekah setiap hari pada saat matahari terbit di mana dia bisa mengkompromikan antara dua orang dengan adil” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
6.      Toleransi kepada teman
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang begitu majemuk, tidak semua teman yang kita punya tergabung dalam satu agama dengan kita.Adakalanya teman kita juga berasal dari orang yang tidak satu agama. Dalam hal ini Islam menggariskan akhlak toleransi kepada teman yang tidak muslim, karena memang agama itu tidak dapat dipaksakan kepada orang lain. Masing-masing orang mempunyai hak untuk memilih agama sekehendak hatinya. Allah berfirman: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (Q.S. al-Kafirun: 6)

Ø  Akhlak terhadap Masyarakat, diantaranya :
1.      Memuliakan tamu.
2.      Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan.
3.      Saling menolong dalam melakukn kebajikan dan taqwa.
4.      Menganjurkan anggota masyarakat termasuk diri sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan orang lain melakukan perbuatan jahat (mungkar).
5.      Memberi makan fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan kehidupannya.
6.      Bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.
7.      Mentaati putusan yang telah diambil.
8.      Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang diberikan seseorang atau masyarakat kepada kita.
9.      Menepati janji.

Ø  Akhlak terhadap Non-Muslim
1.      Menghormati keyakinan non muslim.
2.      Larangan menghina sesembahan non muslim.
3.      Toleransi pada keyakinan masing-masing.
4.      Tolong menolong dan bekerja sama dengan non muslim.
5.      Senantiasa berbuat adil.
6.      Larangan menzalimi dan melanggar hak non muslim.
7.      Mengunjungi non muslim yang sakit dan mendoakannya.
8.      Menghormati jenazah non muslim.

2.        Akhlak buruk terhadap Manusia

1.      Mudah marah (Al-Ghadhab), yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan orang lain.
2.      Iri hati atau dengki (Al-Hasadu atau Al-Hiqdu), yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu mengingingkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali.
3.      Mengadu-adu (An-Namiimah), yaitu perilaku yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan sosial keduanya rusak.
4.      Mengumpat (Al-Ghiibah), yaitu perilaku yang suka membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain.
5.      Bersikap congkak (Al-Ash’aru), yaitu sikap dan perilaku yang menampilkan kesombongan, baik dilihat dari tingkah lakunya maupun dari perkataannya.
6.      Sikap kikir (Al-Bukhlu), yaitu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain.
7.      Berbuat aniaya (Azh-Zhulmu), yaitu suatu perbuatan yang merugikan orang lain, baik kerugian materiil maupun non materiil. Dan ada juga yang mengatakan bahwa seseorang yang mengambil hak-hak orang lain termasuk perbuatan dzalim (menganiaya).


3. Akhlak terhadap Bukan Manusia (Lingkungan Hidup), diantaranya :
1.      Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup.
2.      Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, flora dan fauna yang sengaja diciptakan Allah SWT. untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya.
3.      Sayang pada sesama makhluk.























BAB III
PENUTUP

  A. Kesimpulan
          Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu komponen utama agama islam adalah Akhlak. Suatu perbuatan baru dapat disebut sebagai cerminan akhlak jika dilakukan berulang-ulang sehingga hampir menjadi suatu kebiasaan dan timbul dengan sendirinya tanpa pertimbangan yang lama dan dipikir-pikir terlebih dahulu. Secara garis besar akhlak dibagi menjadi dua Akhlak terhadap Allah dan Akhlak terhadap makhluk Allah. Akhlak kepada Allah dibagi lagi menjadi dua yaitu Akhlak baik dan buruk kepada Allah. Sedangkan Akhlak kepada Makhluk Allah yaitu Akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad SAW.), akklak terhadap Kedua Orang Tua, Akhlak terhadap diri sendiri, Akhlak terhadap Keluarga, akhlak terhadap Tetangga, Akhlak terhadap Kawan, Akhlak terhadap Masyarakat dan Akhlak terhadap Non-Muslim.
 B. Saran
            Dalam Islam salah satu komponen utama dalam agama adalah Akhlak. Maka kita sebagai umat muslim harus memiliki Akhlak mulia, karena dengan Akhlak kita bisa menjalin hubungan baik dengan Allah dan Makhluk Allah.






DAFTAR PUSTAKA

Ilyas,Yunahar, Prof. Dr. M.A.2008.Kuliah Akidah, Kuliah Akhla.Yogyakarta:Belukar.

Azmi, Muhammad.2006.Pembinaan Akhlak Anak Usia Pra Sekolah.Yogyakarta:Belukar.

Kahar, Masyhur.1985.Membina Moral Dan Akhlak.Jakarta:Kalam Mulia.

Mth, Asmuni.1999.Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an.Jakarta:Kalam Mulia.

Syamsuri, Drs, H.2006.Pendidikan Agama Islam SMA Jilid 2 Kelas XI.Jakarta:Erlangga.

Manan, Abdul, DKK.2009.Lembar Kerja Siswa Pendidikan Agama Islam SMA Kelas XI.Surabaya:Cipta Sikan Kenjtana.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar